DI BALIK SERAGAM COKELAT ITU, ADA HATI YANG LEMBUT: KISAH BRIPDA BUDIMAN BERBAGI UNTUK LANSIA YANG TERLUPAKAN

DI BALIK SERAGAM COKELAT ITU, ADA HATI YANG LEMBUT: KISAH BRIPDA BUDIMAN BERBAGI UNTUK LANSIA YANG TERLUPAKAN
DI BALIK SERAGAM COKELAT ITU, ADA HATI YANG LEMBUT: KISAH BRIPDA BUDIMAN BERBAGI UNTUK LANSIA YANG TERLUPAKAN
DI BALIK SERAGAM COKELAT ITU, ADA HATI YANG LEMBUT: KISAH BRIPDA BUDIMAN BERBAGI UNTUK LANSIA YANG TERLUPAKAN

tribratanewsmanggarai.com_

 

Manggarai – Seragam cokelat yang dikenakan setiap hari tak hanya menjadi simbol tugas dan tanggung jawab. Bagi Bripda Budiman, anggota muda di jajaran Polres Manggarai, seragam itu adalah pengingat bahwa pengabdian tidak berhenti pada menjaga keamanan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam.

Di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri, Bripda Budiman memilih jalan sunyi yang jarang diketahui banyak orang. Ia menyisihkan sebagian dari gaji bulanannya. Bukan untuk kemewahan, bukan pula untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk membantu keluarga lansia yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Tak hanya dari pendapatan sebagai polisi, Budiman juga memanfaatkan keahliannya memangkas rambut. Dari setiap rupiah yang ia peroleh dari jasa pangkas rambutnya, ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Hasilnya kemudian dibelikan sembako, kebutuhan pokok, dan perlengkapan sederhana yang sangat berarti bagi para orang tua lanjut usia yang membutuhkan.

Dengan langkah sederhana dan hati yang tulus, ia mendatangi rumah-rumah lansia. Rumah-rumah tua yang berdinding sederhana, yang kadang luput dari perhatian. Di sana, ia tidak datang sebagai aparat, melainkan sebagai anak, sebagai saudara, sebagai manusia yang peduli.

Tangannya menyerahkan bantuan dengan penuh keikhlasan. Senyumnya menguatkan. Sapanya menenangkan. Tak jarang, air mata haru mengalir dari wajah para lansia yang menerima bantuannya. Mereka merasa diperhatikan, dihargai, dan tidak sendirian.

“Saya hanya ingin berbagi sedikit dari apa yang saya punya. Kalau kita masih diberi rezeki, itu artinya ada hak orang lain di dalamnya,” tutur Bripda Budiman dengan rendah hati.

Apa yang dilakukan Budiman mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang. Namun bagi para lansia yang hidup sendiri, yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, uluran tangan itu adalah harapan. Adalah bukti bahwa masih ada yang peduli.

Di tengah berbagai tantangan tugas kepolisian, kisah ini menjadi pengingat bahwa Polri bukan hanya tentang patroli, penindakan, atau penegakan hukum. Polri juga tentang kemanusiaan. Tentang hadir di saat masyarakat membutuhkan, bukan hanya dalam kondisi darurat, tetapi juga dalam kesunyian hidup mereka.

Bripda Budiman menunjukkan bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu berlebih. Cukup dengan hati yang ikhlas dan niat yang tulus.

Kebaikan yang ia tanam mungkin tak selalu terlihat, tetapi dampaknya terasa. Senyum para orang tua itu adalah doa. Dan doa-doa tulus dari mereka yang dibantu, menjadi kekuatan yang tak ternilai.

Semoga kisah Bripda Budiman menjadi inspirasi bagi banyak orang — bahwa di balik seragam, jabatan, dan kesibukan, kita tetaplah manusia yang punya hati. Dan dari hati yang tulus, lahir kebaikan yang mampu mengubah dunia, setidaknya bagi satu kehidupan yang sedang membutuhkan.(Alvzz)